Rabu, 24 November 2010

Filsafat Penjas

oleh : Bernaditya L
BAB I
PENDAHULUAN

1.1Latar belakang Penulisan
Filsafat adalah sebuah ilmu yang awal perkembangannya adalah berasal dari bangsa Yunani. Perkembangan awal filsafat itu sendiri adalah bermula dari pemikiran-pemikiran baru yang dimunculkan oleh berbagai filsuf pada masa itu. Dalam proses perkembangan filsafat sebagai sebuah ilmu akhirnya memunculkan begitu banyak aliran-aliran filsafat yang semuanya mempunyai filsuf masing-masing dengan setiap pendapat yang mereka miliki. Selain itu perkembangn filsafat jugalah yang akhirnya melahirkan berbagai cabang ilmu pengetahuan seperti sekarang ini diantaranya ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan sosial.
Filsafat olahraga adalah seperti filsafat pada umumnya, yang berusaha untuk memahami hakikat, mempersoalkan isu olahraga secara kritis, guna memperolah pengetahuan yang paling hakiki. Namun seperti halnya sebelum kita memasuki proses pembelajaran yang lebih lanjut mengenai filsafat olahraga itu kita terlebih dahulu harus mengetahui apa sebenarnya filsafat itu???
Berdasarkan sedikit pembahasan di atas maka saya mencoba untuk membuat sebuah paper sederhana dengan judul “ FILSAFAT PENDIDIKAN JASMANI dan OLAHRAGA”. Semoga tulisan ini akhirnya bisa mengantarkan saya pada pemahaman yang lebih dalam mengenai proses pembelajaran mata kuliah ini.
1.2Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan paper ini adalah sebagai beriut;
Setelah mempelajari mata kuliah ini seira saya sedikit semakin paham mengenai hakekat dan pembelajaran dari mata kuliah ini.
Sekiranya saya sedikit mengetahui mengenai sajarah perkembangan filsafat dengan para filsufnya beserta berbagai pemikiran mereka.
Yang menjadi tujuan akhir penulisan paper ini adalah sebagai pemenuhan tugas yang diajukan oleh dosen pengampuh mata kuliah ini.



BAB II
FILSAFAT PENDIDIKAN JASMANI DAN OLAHRAGA

2.1 Pengertian Filsafat
Berdasarkan asal kata “ filsafat “ berasal dari bahasa Yunani yakni Philos dan Sophia. Philos berarti cinta dan Sophia berarti kebijaksanaan. Jadi, Filsafat dapat diartikan sebagai Cinta akan Kebijaksanaan.
Selain pengertian filsafat ditinjau dari segi etimologis ada pula berbagai pengertian filsafat yang diberikan oleh berbagai filsuf yang salah satu di antaranya adalah;Bertrand Russell. Dia mengatakan bahwa filsafat adalah tanah tak bertuan antara Sains dan Teologi, yang terbuka terhadap serangan dari kedua pihak. Hal ini mengatakan bahwa filsafat bukan saja membahas mengenai sains tetapi mengenai teologi juga yang selanjutnya filsafat sangat terbuka terhadap kritikan yang diberikan oleh kedua cabang ilmu ini. Selain itu ada pula yang mengatakan bahwa filasafat adalah berpikir tentang berpikir. Hal ini bisa dikatakan bahwa ketika kita berpikir tentang suatu hal kita sudah bisa dikatakan sebagai suatu “filsuf “, karena kita sudah berpikir dan memikirkan apa yang sedang kita pikirkan. Pendapat ini akhirnya menjadi penguat mengenai apa yang dikatan oleh Granci bahwa setiap orang dalam arti tertentu adalah seorang filsuf.
Selain pendapat-pendapat di atas ada pula penulisan mengenai pengertian filsafat yang di tulis oleh Suparlan. Suparlan menjelaskan dengan lebih detail mengenai nilai-nilai yang terkandung di dalam filsafat itu sendiri. Selain itu dengan penjelasan Suparlan akhirnya saya menjadi yakin dengan pengetahuan saya mengenai filasat yang dijulukin sebagai ibu dari segala ilmu pengetahan. Karena filsafat telah berhasil melahirkan ilmu-ilmu baru yang telah berkembang hingga kini yakni ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan sosial.
Jadi, dapat dikatakan bahwa filsafat adalah yang mendasar perkemnagan ilmu- ilmu yang ada termasuk perkembangan ilmu olahraga itu sendiri yang pembahasannya akan kita temui pada pembahasan-pembahsan berikutnya.



2.2 Sejarah Perkembangan Pemikiran Filsafat
Sejarah perkembangan pemikiran filsafat pada awalnya berkembang di Yunani. Hal yang memungkinkan perkembangan awal filsafat adalah Yunani yang berkembang menjadi pusat perdagangan. Selain itu pusat keberadaban merekalah yang juga memungkinkan perkembangan pemikiran filsafat.
Pada awal perkembanganya muncl seorang filsuf pertama yang dikatakan bijaksana yakni Thales. Dia berhasil meramalkan secara tepat gerhanamatahari yang terjadi pada tahun 585 SM.
Pada tahap perkembangan pemikiran filsafat ini muncul begitu banyak filsuf dengan berbagai pendapat mereka yang berbeda-beda. Berdasarkan pendapat mereka akhirnya kita bisa mengklasifikasikan mereka masuk ke dalam aliran filsafat yang mana. Dari situ pulalah akhirnya saya bisa menarik suatu kesimpulan bahwa setiap aliran yang ada dengan filsufnya masing-masing menempuh beberapa cara untuk mempertahankan setiap pendapat yang mereka miliki baik itu dengan cara menimbulkan pandangan baru mengenai suatu hal atau dengan cara mempertentangkan pandangan yang sudah ada dengan pandangan yang mereka munculkan. Dengan kata lain selain mereka memunculkan pandangn baru tetapi mereka juga berusaha menyanggah pandangan yang sudah ada yang dipandang tidak sesuai dengan apa yang menjadi pandangan mereka.
Pada awal perkembangan pemikiran ini muncul nama-nama besar seperti Aristoteles maupun Socrates. Mereka muncul dengan pendapat mereka masing-masing. Aristoteles muncul dengan pandangannya yang mengatakan bahwa dasar dari semua argumen adalah SILOGISME. Dari sini saya berpendapat bahwa ketika kita hendak menarik suatu kesimpulan tentang suatu hal hendaknya kita mengetahui dulu tentang premis yang berkaitan dangan hal tersebut. Selain itu, sumbangannya yang sangat besar terhadap ilmu pengetahuan adalah ia orang pertama yang berhasil membagi dan mengklasifikasikan ilmu pengetahuan.
Selain Aristoteles ada pula Socrates. Dia berpendapat bahwa “hidup tanpa refleksi tidak pantas dijalani”. Hal ini bagi saya bisa dikatakan sebagai suatu yang sangat-sangat bagus karena bagi saya ketika kita hendak melakukan suatu hal atau pekerjaan yang menghendaki suatu keberhasilan, maka kita baru dikatakan berhasil apabila kita mendapatkan hasil yang memuaskan bagi kita dan sesuai dengan apa yang kita inginkan.
Beberapa pendapat di atas adalah merupakan awal perkembangan pemikiran ilmu filsafat. Masih ada begitu banyak pemikiran lain yang ada dalam lingkup perkembangan pemikiran filsafat ini.

2.3 Aliran-Aliran Pemikiran Modern
Pada fase ini perkembangan pemikiran ilmu filsafat bisa dikatakan sangat cepat. Hal ini terlihat dari munculnya begitu banyak filsuf dengan berbagai teori dan pendapat yang mereka munculkan. Selain itu pada masa ini kebebasan untuk memunculkan teori baru telah mereka miliki sepenuhnya. Mengapa demikian?? Karena pada fase sebelumnya yakni pada fase zaman kegelapan kebebesan untuk memunculkan teori baru itu dikekang dengan kekuasaan mutlak gereja. Segala teori yang hendak dimunculkan harus sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh gereja saat itu.
Ada begitu banyak filsuf yang muncul pada fase ini antara lain seperti Rene Descartes. Dia sangat terkenal dengan pendapatnya yang mengatakan bahwa “saya berpikir maka saya ada”. Di sini saya mencoba untuk memberikan pendapat sebagai berikut; bahwa ketika kita memikirkan tentang hidup dan masa depan kita maka kita secara tidak langsung telah menyatakan bahwa kita ada dalam dunia ini dan kita lagi dihadapkan pada suatu kehidupan yang realistis. Dan sebaliknya ketika kita tidak berpikir tentang hidup kita maka kita secara tidak langsung telah menyatakan bahwa kita tidak ada dalam dunia ini dan kita akan merasa hidup itu menjadi sesuatu yang biasa-biasa saja, atau dengan kata lain bisa dikatakan bahwa kita telah menyangkal akan hidup kita sendiri.
Selain itu ada pula filsuf lain yakni John Dewey. Dia mempunyai pandangan bahwa “ pikiran merupakan alat dalam memecahkan permasalahan”. Dari sini saya mencoba untuk memberikan pandangan bahwa ketika kita menghadapi suatu masalah kita akan bisa menemukan jalan keluar apabila kita menggunakan akal budi kita untuk berpikir mencari jalan keluar dari permasalahan tersebut. Sebaliknya ketika kita menghadapi suatu masalah dan kita tidak berusaha untuk mencari jalan keluar dengan cara berpikir maka kita akan larut dan terjerumus dalam permasalahan tersebut dan tidak akan menemukan jalan keluarnya.
Selain kedua pendapat di atas saya memiliki satu pendapat yang kontra. Saya sedikit tidak sependapat dengan apa yang dikatakan oleh Francis Bacon bahwa ”pengetahuan adalah kekuasaan”. Menurut saya memang benar bahwa kita membutuhkan suatu pengetahuan, tetapi ketika pengetahuan menjadi penguasa maka yang terjadi adalah orang tidak akan saling menghiraukan satu sama lain karena mereka berpikir bahwa dengan pengetahuan mereka, mereka akan bisa berbuat apa saja terhadap orang lain sesuka hati mereka.
2.4 Manusia Dalam Kajian Filsafat
Pada bagian ini yang menjadi sorotan dalam pembahasan adalah manusia itu sendiri. Alasannya sangat sederhana adalah karena manusialah yang akan berfilsafat. Manusia yang menjadi subjek dalam proses pembelajaran filsafat itu sendiri. Manusia yang melaksanakan kegiatan berfilsafat. Oleh karena inilah pengkajian manusia dalam filsafat itu dipandang sangat penting. Agar supaya ketika manusia berfilsafat dia mampu untuk melaksanaannya dengan baik.
Pada kajian ini saya kembali lagi kepada pendapat Socartes yang ditulis oleh Aiter dan Billy yang mengatakan bahwa “hidup tanpa refleksi tidak pantas dijalani”. Di sini kepekaan kita sebagai manusia diuji sejauh mana kita menilai kembali apa yang telah kita lakukan. Kita akan bisa mengalami kemajuan ke depan apabila kita terus menerus melihat apa yang telah kita lakukan terlebih dahulu. Dalam hal ini kita mencoba untuk merefleksikan kembali apa yang telah kita lakukan apakah itu telah berhasil atau belum. Ketika kita mengetahui bahwa apa yang kita lakukan belum memuaskan atau belum mencapai keberhasilan maka kita akan semakin berusaha untuk mencapai apa yang kita inginkan yang menjadi patokan keberhasilan kita. Selanjutnya apabila dalam merefleksikan itu akhirnya kita telah menemukan apa yang kita inginkan atau yang menjadi patokan keberhasilan kita maka hendaknya itu tidak berhenti di situ saja tetapi kita akan terus berusaha mengembangkan apa yang telah kita capai hingga akhirnya menjadi sesuatu yang lebih dari apa yang kita harapkan. Menurut saya adalah sangat penting ketika kita melihat kembali apa yang kita lakukan sebagai tindakan untuk menilai sejauh mana keberhasilan kita. Apa yang lalu dan yang akan datang itu bisa menjadi motivator bagi kita untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Oleh karena itu, bagi saya melihat kembali kehidupan yang telah lalu dan menatap kehidupan yang akan datang itu menjadi sesuatu yang sangat penting karena dari situ dan untuk itulah seseorang berusaha untuk mengubah hidupnya sehingga menjadi lebih baik dan mencapai apa yang dia inginkan.

2.5 Relevansi Pemikiran Filsafat Dengan Pendidikan
Tak bisa kita elak bahwa pendidikan itu merupakan hal yang sangat penting dalam proses keberlangsungan hidup kita. Selain itu pendidikan juga merupakan suatu segi kehidupan manusia yang terus menerus dibicarakan di berbagai belahan dunia. Hal itu terjadi karena pendidikan merupakan tanggung jawab kita semua. Oleh karena itu masalah pendidikan adalah juga masalah kita bersama. Pembicaraan mengenai pendidikan tidak akan usai karena beberapa faktor yakni setiap orang menginginkan yang lebih baik,karena teori pendidikan itu selalu ketinggalan oleh kebutuhan masyarakat, dan karena pengaruh pandangan hidup.
Semua permasalahan yang dihadapi seperti di atas adalah cuman satu yang bisa mengatasi dan menjawabi yakni dengan pemikiran filsafat. Oleh karena itu, apabila kita melihat relevansi kedua ilmu ini adalah sangat baik dan sangat membantu. Filsafat merupakan sesuatu ilmu yang sangat penting dalam proses pembelajaran dalam hal ini proses pembelajaran di sekolah. Hal ini berangkat dari proses pendidikan yang selalu memasukan filsafat sebagi suatu ilmu tersendiri. Seperti yang telah dikatakan terlebih dahulu bahwa filsafat itu dikatakan sebagai induk segala ilmu pengetahuan atau dalam istilah asing di sebut sebagai Mater Sciantiarum, atau dalam penjelasan lain mengatakan bahwa ilmu filsafat telah berhasil melahirkan berbagai ilmu pengetahuan yang kini telah berdri sendiri seperti ilmu pengetahuan alam atau natural sciences dan ilmu pengetahuan sosial atau social sciences, dalam hal ini filsafat itu di sebut sebagai Mater Studiorum. Berdasarkan penjelasan di atas maka saya berpendapat bahwa ketiga peran filsafat pendidikan yang ditinjau dari tiga lapangan filasafat yang dijelasankan dalam relevansi filsafat dan pendidikan itu sanagatlah penting baik itu bagi pendidik maupun peserta didik. Ketika seorang pendidik bisa memerankan peranan metafisika, epistemologi, dan aksiologi dengan baik maka akan mempermudah proses pendidikan yang berlangsung. Dalam melaksanakan proses pendidikan ketiga hal di atas adalah menjadi kunci dari keberhasilan proses belajar mengajar itu tersendiri.
Dari segi filsafat metafisika guru harus megetahui hakekat manusia agar dia bisa memperlakukan siswanya sesuai dengan hakekat tersebut. Dari segi filsafat epistemologi garu harus terlebih dahulu menguasai bahan yang akan dibarikan agar supaya dalam penyampaian kepada siswa menjadi lebih efektif. Sedangkan dari segi filsafat aksiologi guru harus berusaha untuk meyakinkan siswa mengenai kehidupan siswa di masa mendatang setelah ia lulus menempuh proses pendidikan tersebut dalam arti bahwa siswa tidak hanya memiliki kuantitas pendidikan saja tetapi lebih pada kualitas kehidupan yang lebih baik.

2.6 Ontologi : Identifikasi play, Games dan Olahraga
Telah dikatakan pada awal bahwa filsafat olahraga adalah seperti filsafat pada umumnya, yang berusaha untuk memahami hakikat, mempersoalkan isu olahraga secara kritis, guna memperoleh pengetahuan yang paling hakiki.
Apa yang dikatakan dalam materi pembelajran mengenai menelusuri makna olahraga adalah sangat baik. Di sana dikatakan bahwa dalam pengertian istilah olahraga terdapat tiga unsur pokok yang menurut saya sangat mantap yakni ; bermain, latihan fisik, dan kompetisi. Ketiga aspek ini akan selalu ada dalam kegiatan atau proses pembelajaran olahraga. Seperti dikatakan bahwa dalam melakukan permainan dalam proses pembelajaran olahraga tidak terdapat batasan tertentu mengenai proses berlangsungnya suatu permainan tetapi lebih pada jalannya permainan yang di mana melibatkan otot-otot baik itu otot besar maupun otot kecil yang dalam pembelajaran dasar penjas dikatakan bahwa itu merupakan aktiitas jasmani. Selain itu yang menjadi indikator dalam suatu proses permainan adalah ketika setiap peserta permainan merasa nyaman dan senang dengan permainan tersebut. Hal ini tentu sudah sedikit beraitan dengan aspek yang kedua yakni latihan fisik. Dengan bermain juga kita bisa melatih fisik kita meskipun hasil dari latihan melalui permainan tidak sebanding dengan proses latihan yang dilakukan dengan intensitas tertentu. Selanjutnya mengenai aspek ketiga yakni kompetisi, itu sudah jauh berbeda dengan kedua aspek sebelumnya meskipun sebenarnya ketiga aspek ini salng berhubungan. Pada aspek ini kita bisa melihat kepada suatu tingkatan yang lebih tinggi yakni tingkat kompetisi itu sendiri. Kalau di bermain kita asal merasa senang lain pada aspek ini. Aspek ini lebih menekankan soal kemahiran dan kompetensi yang bagus.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Tak bisa kita elak bahwa pendidikan itu merupakan hal yang sangat penting dalam proses keberlangsungan hidup kita. Selain itu pendidikan juga merupakan suatu segi kehidupan manusia yang terus menerus dibicarakan di berbagai belahan dunia. Hal itu terjadi karena pendidikan merupakan tanggung jawab kita semua. Oleh karena itu masalah pendidikan adalah juga masalah kita bersama. Pembicaraan mengenai pendidikan tidak akan usai karena beberapa faktor yakni setiap orang menginginkan yang lebih baik,karena teori pendidikan itu selalu ketinggalan oleh kebutuhan masyarakat, dan karena pengaruh pandangan hidup.
Semua permasalahan yang dihadapi seperti di atas adalah cuman satu yang bisa mengatasi dan menjawabi yakni dengan pemikiran filsafat. Di sini kita bisa melihat hubungan relevansi antara filsafat dan pendidikan itu sendiri. Filsafat memegang peran penting dalam semua proses pendidikan termasuk proses pendidikan jasmani dan olahraga. Seperti telah dikatakan pada awal bahwa filsafat olahraga adalah seperti filsafat pada umumnya, yang berusaha untuk memahami hakikat, mempersoalkan isu olahraga secara kritis, guna memperoleh pengetahuan yang paling hakiki dari olahraga itu sendiri.

3.2 Usul Saran
Saya tahu bahwa paper sederhana ini masih jauh dari kesempurnaan maka dari itu usul dan saran sangat saya butuhkan demi penyempurnaan tulisan-tulisan yang lain.









DAFTAR PUSTAKA

Aitar&Billy.FilsafatManusia.
http://calysetiawan.googlepages.com.
Anwar,M.H. 2008. Relasi Pemikiran Filsafat Dan Pendidikan,Handout matakuliah
Filsafat Penjas dan Olahraga.
Hazlitt, Henry. 2003. Dasar-Dasar Moralitas. Pustaka Pelajar: Yogyakarta.
Lutan, Rusli. 2001. Olahraga dan Etika Fair Play.
Ditjora &Mendiknas: Jakarta.
Margono. 2007. Landasan Falsafah Pendidikan Jasmani. Dalam : Asas dan Landasan Pendidikan Jasmani.
Osborne,Richard. 2008. Filsafat Untuk Pemula.
Kanisius: Yogyakarta.
Pramono, Made. 2003. Dasar-Dasar Filosofis Ilmu Keolahragaan. Jurnal Filsafat.
Salam, Burhanuddin. H. Drs. 1988. Logika Formal. Dalam : Filsafat Berpikir. Bina Aksara: Jakarta.
Setiawan, Caly. 2004. Krisis Identitas dan Legitimasi Dalam Pendidikan Jasmani.
Suhartono,Suparlan. 2007. Dasar-Dasar Filsafat.
Ar Ruzz Media: Yogyakarta.

Dampak psikologi dalam pembelajaran penjas

Kata psikologi yaitu suatu ilmu yang mempelajari tentang perilaku manusia dalam hubungan dengan lingkungannya, mulai dari perilaku sederhana sampai yang kompleks. Perilaku manusia ada yang disadari, namun ada pula yang tidak disadari, dan perilaku yang ditampilkan seseorang dapat bersumber dari luar ataupun dari dalam dirinya sendiri.
Penerapan ilmu psikologi diterapkan pula ke dalam bidang olahraga yang lalu dikenal sebagai psikologi olahraga. Penerapan psikologi ke dalam bidang olahraga ini adalah untuk membantu agar bakat olahraga yang ada dalam diri seseorang dapat dikembangkan sebaik-baiknya tanpa adanya hambatan dan factor-faktor yang ada dalam kepribadiannya. Dengan kata lain, tujuan umum dari psikologi olahraga adalah untuk membantu seseorang agar dapat menampilkan prestasi optimal, yang lebih baik dari sebelumnya.
Meningkatnya stres dalam pertandingan dapat menyebabkan atlet bereaksi secara negatif, baik dalam hal fisik maupun psikis, sehingga kemampuan olahraganya menurun. Mereka dapat menjadi tegang. denyut nadi meningkat, berkeringat dingin, cemas akan hasil pertandingannya, dan mereka merasakan sulit berkonsentrasi. Keadaan ini seringkali menyebabkan para atlet tidak dapat menampilkan permainan terbaiknya. Para pelatih pun menaruh minat terhadap bidang psikologi olahraga, khususnya dalam pengendalian stres.
Psikologi olahraga juga diperlukan agar atlet berpikir mengenai. mengapa mereka berolahraga dan apa yang ingin mereka capai? Sekali tujuannya diketahui, latihan-latihan ketrampilan psikologis dapat menolong tercapainya tujuan tersebut.
Bagaimanakah Psikologi Olahraga Dapat Membantu Atlet Agar Memiliki Mental yang Tangguh? Mental yang tegar, sama halnya dengan teknik dan fisik, akan didapat melalui latihan yang terencana, teratur, dan sistematis. Dalam membina aspek psikis atau mental atlet, pertama-tama perlu disadari bahwa setiap atlet harus dipandang secara individual, yang satu berbeda dengan yang lainnya. Untuk membantu mengenal profil setiap atlet, dapat dilakukan pemeriksaan psikologis, yang biasa dikenal dengan “psikotes”, dengan bantuan psikometri.
Profil psikologis atlet biasanya berupa gambaran kepnbadian secara umum, potensi intelektual. dan fungsi daya pikimya yang dihubungkan dengan olahraga. Profil atlet pada umumnya tidak berubah banyak dari waktu ke waktu. Oleh karenanya, orang sering beranggapan bahwa calon atlet berbakat dapat ditelusun semata-mata dari profil psikologisnya. Anggapan semacam ini keliru, karena gambaran psikologis seseorang tidak menjamin keberhasilan atau kegagalannya dalam prestasi olahraga, karena banyak sekali faktor lain yang mempengaruhinya. Beberapa aspek psikologis dapat diperbaiki melalui latihan ketrampilan psikologis (diuraikan kemudian) yang terencana dan sistematis, yang pelaksanaannya sangat tergantung dari komitmen si atlet terhadap program tersebut.
Aspek-aspek Psikologis yang berperan dalam Olahraga
1.Berpikir Positif
2.Penetapan Sasaran
3.Motivasi
4.Emosi
5.Kecemasan dan Ketegangan
6.Kepercayaan Diri
7.Komunikasi
8.Konsentrasi
9.Evaluasi Diri
Persiapan Pertandingan
Ada empat tahap penting dalam persiapan menuju pertandingan, yaitu;
Sebelum hari pertandingan
Pada hari pertandingan.
Saat pertandingan.
Setelah hari pertandingan.
Berikut uraiannya dalam contoh persiapan pertandingan bulutangkis:
1. Sebelum Hari Pertandingan
a)Kumpulkan data mengenai kekuatan dan kelemahan lawan. Jika memungkinkan, putarlah rekaman pertandingannya. Kemudian susunlah strategi untuk menghadapinya. Untuk pemain ganda, diskusikan strategi tersebut dengan pasangannya.
b)Pantau kemajuan atlet, baik fisik maupun mentalnya dengan memperhatikan bagaimana tingkat konsentrasinya, bagaimana irama, timing, power, dan kelancaran menjalankan ketrampilannya serta sikapnya terhadap latihan secara umum.
c)Pantau tingkat kecemasan atlet dengan melihat ekspresi wajahnya apakah cerah atau murung: apakah sinar matanya letih atau segar dan awas. Juga perhatikan suasana hatinya, bagaimana kualitas tidur dan makannya, apakah ia mengalami faktor-faktor psikosomatis seperti sakit perut, nyeri otot, sesak nafas, demam, batuk, keringat dingin, dan sebagainya.
d)Pada saat tidak latihan, pastikan bahwa atlet tidak “hidup dan berpikir” mengenai pertandingannya 24 jam sehan. Berikan aktivitas yang menyenangkan bagi dirinya yang dapat memberikan suasana gembira, sehingga ia bisa mengalihkan pikirannya sejenak dari pertandingan.
e)Satu hari menjelang pertandingan, biasanya cukup latihan ringan saja dan tidak perlu berada di lapangan terlalu lama. Pada malam hari sebelum bertanding, tidurlah pada saat yang tepat, tidak perlu tidur terlalu cepat. Sebelum tidur, lakukan latihan relaksasi dan visualisasi. Jika pertandingan besok dilakukan pagi atau siang hari, siapkan alat-alat perperlengkapan pertandingan, termasuk baju ganti dan perlengkapan cadangan malam ini juga agar esok tidak terburu-buru. Pastikan semua dalam keadaan baik.
2. Pada Hari Pertandingan
1)Bangun tidur pada saat yang tepat, malamnya harus tidur cukup dan tidak berlebihan. Kemudian lakukan aktivitas rutin kebiasaan sehari-hari, seperti sembahyang, berdoa, stretching, sarapan (perhatikan kapan harus makan dan apa yang harus dimakan), latihan relaksasi dan visualisasi, memeriksa kembali perlengkapan pertandingan termasuk cadangannya. Mulailah hari ini dengan gembira, optimis, dan berpikir positif.
2)Berangkatlah ke tempat pertandingan pada saat yang tepat. Perhitungkan jarak ke tempat pertandingan, bagaimana mencapainya, kemacetannya dan sebagainya. Tidak perlu berangkat terlalu cepat, namun jangan sampai terlambat, sehingga tidak ada waktu untuk istirahat, penyesuaian dan pemanasan.
3)Di tempat pertandingan pelatih perlu mengenali atlet mana yang berada didekat teman-temannya dan mana yang lebih suka menyendiri. Pastikan di lapangan mana atlet yang akan bertanding, jangan lupa melapor panitia. Untuk pertandingan pertama, pastikan atlet sudah hapal dimana letak ruang ganti, WC, ruang kesehatan, tes doping, tempat ganti senar, dan sebagainya.
4)Sambil melakukan pemanasan, atlet hendaknya meningkatkan level `semangat’ dlan tetap berpikir positif. Pelatih dapat mengingatkan strategi yang akan diterapkan secara sekilas. Lakukan stroke dengan penuh konsentrasi yang kemudian dapat dilanjutkan dengan’visualisasi clan relaksasi.
3. Saat Bertanding
Saat bertanding tiba, bukan waktunya lagi untuk memikirkan teknik memukul atau bagaimana harus melangkah. Itu semua sudah dilatih dalam latihan dan sudah dihayati dalam visualisasi. Sekarang saatnya tinggal mengulang-ulang kejadian yang sudah divisualisasikan dan melakukannya sesuai dengan situasi saat ini. Sekarang adalah saatnya melakukan konsentrasi penuh hanya pada bola dan jalannya pertandingan.
Anjurkan atlet untuk:
Berpikir positif dan optimis, jangan biarkan pikiran-pikiran negatif.
Bermainlah dengan irama sendiri, jangan terbawa irama lawan.
Menjalankan strategi yang telah disiapkan. Jangan diubah jika strategi itu berjalan. Lakukan evaluasi singkat, jika strategi tidak jalan, lakukan penyesuaian dengan alternatif strategi yang sudah dipersiapkan.
Hindari hal-hal negatif seperti, menyalahkan diri sendiri secara berlebihan, berbicara terhadap diri sendiri berlebihan, berpikir negatif, meragukan kemampuan clan menyerah sebelum pertandingan selesai.
4. Setelah Hari Pertandingan
Mintalah atlet mencatat hal-hal posisitf maupun negatif yang dirasa berpengaruh terhadap penampilannya dalam pertandingan tadi. Bukan hanya yang bersifat teknik, taktik, clan strategi, tetapi juga yang bersifat mental, bahkan hal-hal kecil lainnya. Catat hasil tersebut dalam buku evaluasi si atlet.
Evaluasi penampilan dalam pertandingan tadi. Apakah mencapai sasaran?
Putuskan apakah perlu diadakan penyesuaian terhadap program latihan.
Pusatkan perhatian terhadap aspek-aspek positif dari penampilan dalam pertandingan.
Daftar Pustaka
http://pojokpenjas.wordpress.com/2007/11/12/pengertian-psikologi-olahraga/
http://www.blogger.com/feeds/8679752429745496740/posts/default
http://fakultasluarkampus.net/?p=28

Selasa, 23 November 2010

Penjas, Sebuah Tantangan

Salah satu ancaman era global saat ini adalah gaya hidup diam atau kurang gerak plus pola konsumsi yang tidak sehat. Dampaknya, bermunculan penyakit degeneratif, seperti penyakit jantung koroner, kencing manis (DM), dan tekanan darah tinggi. Menurut WHO, penderita DM pada 2000 tercatat 8,4 juta jiwa dan diperkirakan menjadi 21,3 juta jiwa pada 2030 (Jawa Pos 25/11/08).

Gaya hidup kurang gerak pada anak di sekolah terkait erat dengan peran pendidikan jasmani (penjas). Sebab, penjas merupakan bagian dari pendidikan umum yang memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak secara menyeluruh.

Disebut menyeluruh karena yang ingin dicapai melalui penyediaan pengalaman gerak pada siswa bukan hanya perkembangan fisik (kebugaran jasmani dan keterampilan gerak dasar). Perkembangan intelektual (kemampuan memecahkan masalah) juga jadi target. Demikian pula perkembangan emosional (konsep diri positif) dan sosial (kemampuan kerja sama). Bahkan, target penjas bermuara pada peningkatan kualitas hidup melalui pencapaian derajat kesehatan yang lebih baik (Rusli Lutan, 2002).

Terpinggirkannya status penjas di sekolah dipengaruhi persepsi yang berbeda di antara pembuat kebijakan, warga (orang tua), kalangan pendidikan itu sendiri, serta pemangku profesi bidang pendidikan dan olahraga. Ketika nilai material kian menonjol, kemampuan untuk memperoleh materi itu menjadi tujuan utama. Akibatnya, prestasi akademik menjadi fokus. Penjas, di sisi lain, dianggap tidak punya kandungan akademik dan terpinggirkan.

Anggapan bahwa penjas tak punya nilai akademik tersebut banyak dipengaruhi proses penyelenggaraan penjas yang kurang mampu membangkitkan proses ajar. Yakni, hanya menyentuh domain psikomotor, sedangkan dimensi kepribadian dan watak jauh dari memadai, bahkan terlalaikan. Itu berkaitan dengan keterbatasan dan rendahnya standar kompetensi guru penjas, terutama di jenjang sekolah dasar.

Itu masih ditambah sistem penilaian kinerja guru dalam rangka kenaikan pangkat yang tidak dilakukan oleh orang yang mampu di bidangnya. Akibatnya, guru tidak terpacu untuk terus mengembangkan karir profesionalnya. Guru penjas umumnya pasif dalam mengantisipasi pengembangan profesinya, juga kekurangan dukungan dari kepala sekolah dan guru bidang studi lain. Itu belum termasuk problem keterbatasan waktu serta minimnya fasilitas olahraga dan perlengkapan untuk melaksanakan kurikulum yang ada.

Program penjas yang bermutu tidak selalu ditampilkan dalam bentuk kegiatan olahraga yang menekankan keterampilan. Olahraga merupakan salah satu aktivitas jasmani yang dapat dijadikan sebagai media dalam proses ajar. Penjas dapat memanfaatkan media aktivitas kesegaran jasmani, aktivitas permainan, aktivitas sosial, aktivitas petualangan, olahraga rekreasi, gerak dasar, dan lain-lain.

Untuk itu, guru penjas dituntut untuk kreatif dan inovatif dalam proses belajar mengajar. Dengan begitu, kebugaran jasmani siswa meningkat dan bertahan dalam status baik, pertumbuhan fisik dan psikis siswa optimal, serta kemampuan dan keterampilan gerak siswa meningkat. Karakter moral siswa juga makin kuat (olahragawan sejati). Sikap-sikap baik makin menonjol (sportif, jujur, disiplin, bertanggung jawab, dapat bekerja sama, percaya diri, dan demokratis). Bahkan, siswa mampu menjaga keselamatan diri sendiri, orang lain, dan lingkungannya. Juga terbentuk pola hidup sehat dan cukup gerak (bersih, pro kesehatan, sehari bergerak minimal 10 ribu langkah).

Karena itu, dibutuhkan koordinasi dan kerja sama di antara semua pihak (guru, orang tua, sekolah, tokoh masyarakat, pengurus klub olahraga, dan media massa). Dengan demikian, terbangun sinergi yang menjamin terselenggaranya penjas bermutu bagi semua peserta didik. (soe)

Sumber:
http://www.klubguru.com/2-view.php?subaction=showfull&id=1236248159&archive=&start_from=&ucat=2&do=artikel

Senin, 22 November 2010

Gapai Prestasi Lewat Olahraga

(Friday, 26 January 2007) -
Pretasi dalam dunia pendidikan tidak hanya diperoleh dari prestasi akademik saja, tapi juga bisa didapatkan pada bidang
olahraga, kesenian, ketrampilan dan sebagainya. Karenanya, sudah sewajarnya jika sekolah pun memperhatikan
prestasi yang bukan dari prestasi akademik. Sekolah-sekolah negeri pun saat ini sudah menerapkan sejumlah prestasi
sebagai catatan dalam penerimaan siswa baru.
Prestasi tersebut antara lain prestasi olahraga jenis apa pun. Dengan harapan, mereka yang mempunyai prestasi bisa
mengembangkan dan membawa harum nama sekolah yang bersangkutan. Untuk siswa yang meraih prestasi nasional,
langsung diterima di sekolah. Sedangkan prestasi tingkat provinsi mendapatkan tambahan point, begitu juga dengan
prestasi tingkat kabupaten.
Sebagian besar orang tua sekarang, mungkin lebih mementingkan prestasi akademik dibandingkan prestasi nonakademik.
Mereka beranggapan bahwa prestasi akademik akan lebih menjamin masa depan sang anak dibandingkan
dengan prestasi non-akademik. Seperti yang diungkapkan Bambang warga Jatibarang Brebes, orang tua Nabella yang
terus membimbing anaknya untuk terus berprestasi di bidang olahraga, khususnya renang.
"Pada dasarnya prestasi akademik dan non-akademik ini sama penting buat anak, bagaimana kita mengembangkan
bakat yang dimiliki anak tersebut," katanya kepada Tim Kreasi.
Untuk menumbuhkan prestasi anak tersebut, sekolah juga berkewajiban mengembangkannya. Yakni dengan
mengembangkan olahraga prestasi di setiap sekolah, sehingga anak-anak didiknya yang mempunyai bakat dan minat
bisa dikembangkan. Meski bukan upaya wajib, jika sekolah tersebut perhatian terhadap kemajuan anak-anak didiknya,
maka sekolah tersebut sudah mengembangkan potensi yang dimiliki semua anak didiknya.
"Paling tidak, sekolah bisa membuat ekstrakurikuler yang mampu menarik minat siswa-siswinya untuk mengembangkan
minat dan bakatnya. Seperti anak didik saya dari Paguyangan, yang punya potensi dan bakat renang, karena tidak ada
sarana yang memadai perkembangannya kurang maksimal. Padahal dia sangat potensial," tukasnya mantap.
Bagaimana dengan pendapat teman-teman muda, dengan olahraga prestasi ini? Tanggapan yang muncul cukup
beragam. Tapi berdasarkan wawancara Tim Kreasi kepada beberapa anak SMA, ternyata sebagian besar mendukung
pengembangan olahraga prestasi.
Vita Yuni Lestari, siswi SMAN 1 Bumiayu mengatakan bahwa olahraga prestasi cukup diperlukan di sekolah. Sehingga
semua siswa bisa berprestasi, baik akademik maupun non-akademik. Vita sendiri, mengakui tidak mempunyai prestasi
tertentu di bidang olahraga, namun pengembangan itu penting bagi mereka yang mempunyai bakat.
"Kalau saya hanya sekedar hobi, seperti lari-lari pagi untuk menjaga vitalitas tubuh," ujar gadis yang baru saja
dinobatkan sebagai Si Nok Brebes tahun 2006 lalu.
Yang utama dari olahraga tersebut, lanjut Vita selain prestasi adalah manfaat membuat tubuh sehat. Karena kesehatan
tidak bisa dibeli dengan uang, bahkan jika sudah sakit harus berbaring dan istirahat.
Lain lagi dengan Faizal, siswa SMAN 1 Brebes yang suka bola voli dan sepak bola bersama teman-temannya. Selain
menghindari stress, olahraga yang dia lakukan juga menjalin persahabatan dengan teman-temannya.
"Kalau prestasi belum pernah, olahraga yang aku lakukan hanya sekedar hobi dan untuk kesehatan," katanya mantap.
Selain itu, dia juga emngaku rutin melakukan lari pagi pada hari Minggu dan pada saat-saat tertentu juga mengikuti
fitnes di tempat-tempat kebugaran yang ada di Brebes. Suka Renang
Ketika ditanya pendapatnya tentang prestasi olahraga, dia sangat setuju dikembangkan di sekolah-sekolah. Karena
prestasi yang dilengkapi dengan bukti piagam dan penghargaan tersebut akan mempunyai manfaat di kemudian hari.
termasuk saat melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi lagi.
""Prestasi itu menunjang dalam memilih sekolah atau universitas, kalau kita punya prestasi mungkin menjadi
pertimbangan tersendiri, bahkan kalau prestasi nasional langsung diterima," katanya mantap.
Lain lagi dengan Arif, siswa SMA swasta di Kota Tegal, yang mengaku malas kalau di suruh olahraga, termasuk saat
mengikuti pelajaran olah raga. Jika pemanasan sebelum olahraga inti disuruh lari oleh guru olahraganya, dia hanya jalan
saja. "Soalnya kalau lari-lari terus kan capai, kan lagi tidak mendapat apa-apa," katanya beralasan.
Wah, kayaknya di Arif ini lupa, jika olahraga tidak hanya mengeluarkan keringat dan capek saja, tapi lebih dari itu, yakni
membuat sehat badan. Seperti pepatah Men Sana In Corpore Sano, dia dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang
kuat. Paling tidak pepatah itu, yang harus menjadi pegangan jika kita olah raga. Syukur-syukur dengan olah raga kita
bisa meraih prestasi. Banyak contoh atlet-atlet nasional yang berhasil dan tenar dan mendapatkan kehidupan dari
olahraga tersebut. Sebut saja Chris John, sang juara dunia di cabang tinju, Taufik Hidayat jawar bulu tangkis dunia, dan
lainnya.
Kenapa tidak, gapai prestasi lewat olah raga! (riza-tim kreasi)

http://www.radartegal.com/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=6022

Jumat, 19 November 2010

Gerak Reflek pada Manusia

GERAK REFLEK
Gerak terjadi begitu saja. Gerak terjadi melalui mekanisme rumit dan melibatkan banyak bagian tubuh. Terdapat banyak komponen-komponen tubuh yang terlibat dalam grak ini. Baik itu disadari maupun tidak disadari.
Gerak adalah suatu tanggapan tehadap rangsangan baik itu dari dalam tubuh maupun dari luar tubuh. Gerak merupakan pola koordinasi yang sangat sederhana untuk menjelaskan penghantaran impuls oleh saraf dan dalam melakukan gerak tubuh kita melakukan banyak koordinasi dengan perangkat tubuh yang lain. Hal ini menunjukkan suatu kerja sama yang siergis.
Adapun berdasarkan fungsinya system saraf itu sendiri dapat dibedakan atas tiga jenis :
1.Sel saraf sensorik
Sel saraf sensorik adalah sel yang membawa impuls berupa rangsangan dari reseptor (penerima rangsangan), ke system saraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang). Sel saraf sensorik disebut juga dengan sel saraf indera,karena berhubungan dengan alat indra.
2.Sel saraf Motorik
Sel saraf motorik berfungsi membawa impuls berupa tanggapan dari susunan saraf pusat (otak atau sumsum tulang belakang) menuju to atau kelenjar tubuh. Sel saraf motorik disebut juga dengan sel saraf penggerak,karena berhubungan erat dengan otot sebagai alat gerak.
3.Sel saraf penguhubung
Sel saraf penguhubung disebut juga dengan sel saraf konektor,hal ini disebabkan karena fungsinya meneruskan rangsangan dari sel saraf sensorik ke sel saraf motorik.
Namun pada hakikatnya sebenarnya system saraf terbagi menjadi dua kelompok besar :
Sistem saraf sadar
Adalah system saraf yang mengatu tau mengkoordinasikan semua kegiatan yang dapat diatur menurut kemauan kita. Contohnya, melempar bola, berjalan, berfikir, menulis, berbicara dan lain-lain.
Saraf sadar pun terbagi menjadi dua :
a)Saraf pusat, terdiri dari :
Otak
Merupakan pusat kesadaran,yang letaknya di rongga tengkorak.
Sumsum tulang belakang
Sumsum tulang belakang berfungsi menghantarkan impuls (rangsangan) dari dan ke otak,serta mengkoordinasikan gerak refleks. Letaknya pada ruas-ruas tulang belakang,yakni dari ruas-ruas tulag leher hingga ke ruas-ruas tulang pinggang yang kedua. Dan dalam sumsum ini terdapat simpul-simpul gerak refleks.
b)Saraf Tepi
Sistem saraf tepi terdiri dari sarfa-saraf yang berada di luar system saraf pusat (otak dan sumsum ulang belakang). Artinya system saraf tepi merupakan saraf yang menyebar pada seluruh bagian tubuh yang melayani organ-organ tubh tertentu,sepeti kulit,persendian,otot,kelenjar,saluran darah dan lain-lain.
Susunan saraf tak sadar.
Susunan saraf simpatis
Susunan saraf parasimpatis
Gerak pada umumnya terjadi secara sadar, namun, ada pula gerak yang terjadi tanpa disadari yaitu gerak refleks. Impuls pada gerakan sadar melalui jalan panjang, yaitu dari reseptor, ke saraf sensori, dibawa ke otak untuk selanjutnya diolah oleh otak, kemudian hasil olahan oleh otak, berupa tanggapan, dibawa oleh saraf motor sebagai perintah yang harus dilaksanakan oleh efektor.
Gerak refleks berjalan sangat cepat dan tanggapan terjadi secara otomatis terhadap rangsangan, tanpa memerlukan kontrol dari otak. Jadi dapat dikatakan gerakan terjadi tanpa dipengaruhi kehendak atau tanpa disadari terlebih dahulu. Contoh gerak refleks misalnya berkedip, bersin, atau batuk. Dimana gerak refleks ini merupakan gerak yang dihasilkan oleh jalur saraf yang paling sederhana. Jalur saraf ini dibentuk oleh sekuen dari neuron sensorik ,interneuron, dan neuron motorik, yang mengalirkan impuls saraf untuk tipe refleks tertentu. Gerak refleks yang paling sederhanahanya memerlukan dua tipe sel saraf, yaitu neuron sensorik dan neuron motorik. Gerak refleks bekerja bukanlah dibawah kesadaran dan kemauan seseorang.
Pada gerak refleks, impuls melalui jalan pendek atau jalan pintas, yaitu dimulai dari reseptor penerima rangsang, kemudian diteruskan oleh saraf sensori ke pusat saraf, diterima oleh set saraf penghubung (asosiasi) tanpa diolah di dalam otak langsung dikirim tanggapan ke saraf motor untuk disampaikan ke efektor, yaitu otot atau kelenjar. Jalan pintas ini disebut lengkung refleks. Gerak refleks dapat dibedakan atas refleks otak bila saraf penghubung (asosiasi) berada di dalam otak, misalnya, gerak mengedip atau mempersempit pupil bila ada sinar dan refleks sumsum tulang belakang bila set saraf penghubung berada di dalam sumsum tulang belakang misalnya refleks pada lutut.
Kemudian bagaimanakah mekanisme gerak refleks dalam tubuh kita?
Gerak refleks adalah gerak yang dihasilkan oleh jalur saraf yang paling sederhana. Jalur saraf ini dibentuk oleh sekuen neuron sensor, interneuron, dan neuron motor yang mengalirkan impuls saraf untuk tipe reflek tertentu. Gerak refleks yang paling sederhana hanya memerlukan dua tipe sel syaraf yaitu neuron sensor dan neuron motor.
Gerak refleks disebabkan oleh rangsangan tertentu yang biasanya mengejutkan dan menyakitkan. Misalnya bila kaki menginjak paku, secara otomatis kita akan menarik kaki dan akan berteriak. Refleks juga terjadi ketika kita membaui makanan enak , dengan keluarnya air liur tanpa disadari. Berikut skema gerak refleks:
  Gerak refleks terjadi apabila rangsangan yang diterima oleh saraf sensori langsung disampaikan oleh neuron perantara (neuron penghubung).Hal ini berbeda sekali dengan ekanisme gerak biasa.
Gerak biasa rangsangan akan diterimaleh saraf sensorik dan kemudian disampaikan langsung ke ota. Dari otak kemudian dikeluarkan perintah ke saraf motori sehingga terjadilah gerakan. Artinya pada gerak biasa gerakan itu diketahui atu dikontrol oleh otak. Sehingga oleh sebab itu gerak biasa adalah gerak yang disadari.

Sumber :
http://thetom022.wordpress.com/2008/01/15/gerak-reflek-pada-manusia/
Amien,M.1987.Makhluk Hidup.Jakarta:PN Balai Pustka.

Rabu, 03 November 2010

penjelasan video:
1. Sikap Tegak : 
    Badan berdiri tegak, tangan lurus rapat disamping badan. Pandangan mata lurus kedepan.
2. Sikap Hormat : 
    badan tegak kaki rapat, kedua telapak tangan rapat di depan dada.
3. Sikap Pasang 1 :
    kaki kiri maju kedepan, kedua kaki membentuk garis lurus. Lutut kiri ditekuk, berat badan berada dikaki kiri sedangkan kaki kanan lurus kebelakang. Posisi tangan siap didepan dada.
4. Sikap Pasang 2 :  
    Dari sikap pasang 1, telapak kaki kiri di putar keluar 90⁰, badan meliuk ke kekiri dan kaki kanan jinjit.
5. Sikap Pasang 3 :
    Dari sikap pasang 2, kaki kanan digeser serong kanan kedepan. Berat badan berada dikaki kanan. Posisi tangan berada didepan dada.
6. Sikap Pasang 4 :  
    Dari sikap pasang 3, kaki kiri dirapatkan dengan kaki kanan kemudian digeser lurus kekiri. Posisi kuda-kuda tengah. Tangan kanan lurus didepan dada.
7. Sikap Pasang 5 :
    Dari sikap pasang 4, kaki kanan dirapatkan kekiri, kemudian digeser lurus kedepan 
diikuti kaki kiri menyilang kedepan. Posisi badan pipih. Tangan mengikuti gerakan badan.
8. Sikap Pasang 6 :  
    Dari sikap pasang 5, badan diputar 180⁰ kekiri. Posisi kuda-kuda tengah dan badan 
pipih. Posisi tangan dan pandangan mata lurus kedepan.
9. Sikap Pasang 7 : 
    Dari sikap pasang 6, kaki kanan disilangkan kedepan diikuti tangan kanan berada didepan tangan kiri, kaki kiri jinjit.
 10. Sikap Pasang 8 : 
    Dari sikap pasang 7, badan diputar kekiri, diikuti kaki kiri diangkat. Posisi tangan kanan berada didepan tangan kiri.

video dasar gerak pencak silat...

                                        rangkaian gerakan dari sikap tegak sampai sikap pasang 8